
Pengen merantau buat mencari kebebasan, tapi mendengar cerita anak rantau, kok kayaknya sengsara banget?
FROYONION.COM - Kata “merantau” sering dilekatkan dengan orang-orang dari kampung yang datang ke kota demi mencari pundi-pundi. Bagaimana kalau situasi tersebut dibalik? Dengan kata lain, orang dari kota datang ke kampung bukan untuk bekerja melainkan berkuliah (baca: mengeluarkan uang).
Nggak banyak yang sadar, tapi hidup di perantauan untuk berkuliah juga nggak kalah susah dari merantau untuk bekerja.
Meskipun banyak kampus-kampus bagus di kota, tapi ada banyak alasan pendukung lain yang bikin banyak orang rela berkuliah jauh dari kota asalnya. Tentunya, ada culture shock ketika pertama kali tiba di tanah perantauan. Mulai dari adat sampai ke fasilitas yang ada dan gak ada di daerah tertentu.
Contohnya adalah ketika merantau ke Kota Padang, maka Alfamart dan Indomart gak bisa dijumpai. Kamu pasti bakal kangen pemandangan setiap 500 meter ada plang minimarket merah dan biru itu.
Untuk itu sebelum memutuskan pergi merantau, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan direncanakan dengan matang, sehingga kamu tetap bertahan hidup di perantauan. Pada umumnya, manusia mampu bertahan hidup jika kebutuhan pokoknya terpenuhi. Kebutuhan pokok itu terdiri dari kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
BACA JUGA: 4 CARA MENCARI KOSAN YANG NYAMAN BUAT ANAK MUDA PERANTAU
Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah tempat tinggal yang merupakan kebutuhan papan. Merantau berarti berpindah, itu sebabnya tempat tinggal menjadi aspek yang perlu kamu perhitungkan baik-baik.
Sebelum mencari tempat tinggal, kamu perlu tahu rata-rata harga tempat tinggal di daerah tersebut. Perlu juga dipertimbangkan, lebih menguntungkan tinggal di kamar kosan dengan fasilitas lengkap, atau di kamar kosan tanpa fasilitas, atau malah mengontrak. Karena setiap daerah memiliki harga yang berbeda-beda.
Selain harga tempat tinggal, biaya utilitas juga perlu diperhitungkan. Karena kalau kamu beruntung mendapat harga tempat yang murah tapi ternyata jumlah yang kamu bayarkan untuk listrik, keamanan, dan lain-lain lebih mahal, maka akan tetap buntung.
BACA JUGA: INILAH 6 ALASAN MENGAPA MAHASISWA LEBIH NYAMAN DI TANAH PERANTAUAN
Hal penting yang harus kamu perhatikan ketika memilih tempat tinggal adalah akses. Jangan mudah tergiur dengan harga murah atau fasilitas keren, kamu juga perlu memperhatikan kestrategisan tempat tinggalmu. Berapa jarak ke jalan utama, tempat makan, tempat belanja, atau tempat fotocopy? Karena di beberapa daerah angkutan umum tidak sampai malam atau aksesnya tidak seluas itu. Atau bahkan kamu pakai kendaraan pribadi, biaya bensin juga perlu diperhitungkan.
Jika kebutuhan papan ini memenuhi idealmu, maka kamu akan merasa nyaman di perantauan. Jangan sampai homesick karena tempat tinggal di perantauan tidak nyaman. Kenyamanan juga penting bagi kelangsungan hidup di perantauan, karena nyaman akan menghindarkan dari stres yang akan mengganggu kehidupan perantau.
Hidup di perantauan gak lepas dari kesulitan menahan nafsu, dan pengaturan keuangan adalah alat untuk menahan nafsu sehingga kehidupan perantauan tidak berakhir mengenaskan setiap akhir bulan. Biaya yang paling sulit diatur dan ditebak adalah biaya makan; perlu diingat kalau makan juga merupakan nafsu yang harus dikendalikan! Makanya yang harus diprioritaskan adalah biaya utilitas yang konstan, seperti paket internet, listrik, atau tempat tinggal.
Biasakan membuat rencana keuangan. Berapa uang bulanan (income)? Berapa biaya utilitas yang menjadi kewajiban? Berapa biaya kebutuhan pokok yang harus dibeli setiap bulan (sabun, sampo, dll)? Berapa budget makan setiap hari selama sebulan? Berapa biaya transport selama sebulan? Setelah mencatat angka-angka tersebut, kamu akan tahu di bagian mana kamu harus berhemat dan menahan diri.
Selain membuat rencana keuangan, kamu juga bisa membiasakan diri mencatat semua pengeluaran. Pencatatan pengeluaran memang ribet. Tapi dengan catatan pengeluaran, kamu akan mikir berkali-kali buat spending money secara asal-asalan dan ketika uang kamu sudah habis, kamu sadar di mana letak kesalahan kamu (sebagai manusia kita harus belajar dari kesalahan).
Sebelumnya disebutkan kalau makan itu nafsu yang harus dikendalikan, maka jangan lupa juga kalau makan itu kebutuhan pokok yang paling pokok untuk semua makhluk hidup. Sesibuk apapun, sestres apapun, sekere apapun yang namanya anak rantau harus makan. Bahkan jika boleh menukar urat malu dengan makanan, jangan ragu untuk melakukannya—bawa piring kosong ke tetangga buat minta nasi dan lauk (jadikan ini opsi paling terakhir).
Opsi pertama adalah warung makan dengan harga murah tapi nasinya sebakul, soal rasa bisa dikesampingkan dulu selama gak basi. Meskipun soal rasa bisa dikesampingkan, tapi soal kebersihan nggak bisa dinego.
Walaupun murah, jangan beli makanan di tempat yang jorok. Harga murah memang kamu dapat, tapi biaya rumah sakit juga menanti. Pilihan harga makanan ini perlu disurvei langsung atau mendengar testimoni dari orang-orang terdekat supaya dapat yang oke.
Biasanya, di daerah yang memang banyak mahasiswa akan ada katering yang menawarkan menu makanan untuk sehari-hari. Umumnya juga, harganya ramah bagi kantong mahasiswa. Dengan jasa katering itu, kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin hari ini makan apa lagi. Karena selain budget, memilih menu makanan juga susah.
Selain membeli makanan, kamu juga bisa membandingkan lebih bagus (untuk dompet dan tubuh) membeli makanan atau membuat makanan? Tapi dengan membuat makanan itu artinya kamu memerlukan kulkas untuk menyimpan bahan-bahan, dan juga waktu luang untuk membuat makanan.
Pilihan yang paling aman adalah selalu menyiapkan makanan cadangan; jika kamu tidak sempat beli makanan di luar, ketika kamu terlalu malas keluar, ketika kamu tidak memiliki uang, maka makanan cadangan adalah kunci. Kamu bisa membeli beberapa mie instan (jangan banyak-banyak, nanti kamu tergoda), atau makanan yang awet seperti nugget.
Sedikit tambahan, biasanya di kampus ada seminar gratis yang menyediakan snack dan makan siang, jangan ragu untuk mengikutinya. Karena dengan mengikuti seminar seperti itu ada banyak keuntungan yang bisa diambil; sertifikat, ilmu, koneksi, doorprize (kalau beruntung), dan pastinya konsumsi gratis.
Misalkan, daerah perantauanmu adalah tempat yang kamu impi-impikan, pasti banyak hal yang ingin dilakukan di sana. Secara tidak sadar kamu akan membuat to do list dalam otak, yang akan lebih bagus jika to do list tersebut dibuat dalam bentuk yang dapat dilihat, entah itu diketik atau ditulis di memo.
Namun, jangan terbawa euphoria melakukan to do list impian. Ingat kembali apa tujuan merantau (kuliah). Oleh sebab itu, pembuatan to do list bikin waktu kamu lebih efisien. Kegiatan sehari-hari yang hanya berkutat pada perkuliahan mungkin akan menjenuhkan, atau malah akan terasa overwhelmed; saat itulah to do list impian bisa menjadi motivasi.
Nggak perlu bikin to do list sehari-hari yang kaku, cukup me-list kegiatan apa saja yang harus dilakukan di hari itu. Dan untuk membangkitkan motivasi, kamu juga menambahkan apa saja yang ingin kamu lakukan. Contohnya seperti pergi ke pantai.
Kegiatan pergi ke pantai bisa dilakukan ketika kegiatan-kegiatan prioritas telah tuntas dan masih ada waktu dan tenaga. Dengan begitu, kehidupan perantauan kamu tetap pada pada jalurnya, dan kamu tetap happy.
Perlu diingat, merantau sama dengan memulai dari awal. Berani sendiri adalah pegangan anak rantau. Untuk memulai perantauan, kamu harus mengambil keberanian. Bahkan keputusan untuk merantau adalah salah satu kebeneranian yang sudah kamu ambil, maka kamu hanya perlu mengambil keberanian yang lain.
Meskipun merantau ke tanah yang masih ditinggali oleh kerabat, ketika kamu memutuskan untuk tinggal sendiri, maka kamu tidak bisa berharap terus-menerus bergantung pada orang lain. Bahkan jika kamu memiliki teman di perantauan, untuk mendapatkan teman itu membutuhkan keberanian.
Kamu harus berani mengeksplor tanah yang akan kamu tempati itu. Kamu harus berani mencari toko dengan harga barang paling rendah. Kamu harus berani memasuki aula besar yang menyelenggarakan seminar dan makan siang gratis. Semua berani itu adalah berani sendiri.
Jika kamu terus mengikuti orang lain, maka nilai kehidupan perantauanmu akan sia-sia. (*/)