
Usaha tak akan mengkhianati hasil. Inilah kata yang tepat untuk menggambarkan takdir Manchester City. Setelah 7 tahun lamanya berjuang Pep Guardiola sukses mengantarkan The Sky Blues meraih titel perdana Liga Champions.
FROYONION.COM - Manchester City belum sah mendapat julukan tim elit Eropa sebelum mampu menjuarai Liga Champions.
Pernyataan ini banyak terlontar dari para analis dan jurnalis lantaran The Citizen hanya mampu mengoleksi gelar-gelar domestik.
Namun, pernyataan tersebut akhirnya sirna kala City sukses mengandaskan perlawanan ketat Inter Milan 1-0 di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul.
Rodri mencetak gol tunggal penentu kemenangan anak asuh Pep Guardiola pada menit 68.
Kemenangan ini mengantarkan Manchester biru meraih trofi 'Kuping Besar' untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Berbeda halnya dengan pertandingan City pada fase gugur sebelumya. Madrid, Bayern dan RB Leipzig berhasil mereka lumat dengan agregat telak.
Namun, pada pertandingan final kali ini City ternyata kesulitan mengembangkan permainan dan menciptakan peluang.
City memang mendominasi jalannya pertandingan paruh waktu dengan 62 persen, namun Inter mampu bertahan dengan sangat baik.
Inzaghi meredam gempuran City dengan formasi 3 bek tengah dan 2 bek sayap yang selalu mobile. Acerbi, Bastoni dan Darmian berhasil 'mengantongi' Haaland dan mengawal ketat Kevin De Bruyne.
Sementara itu, Federico Dimarco dan Denzel Dumfries melakukan umpan-umpan silang dari sisi sayap sembari melakukan man to man marking terhadap gelandang City.
Inter sejak awal pertandingan mewaspadai Haaland dan De Bruyne yang jadi kunci permainan.
Taktik Simone Inzaghi untuk membatasi pergerakan 2 pemain ini pun tak sia-sia. Terbukti dari kedua pemain ini tak ada satupun yang mencetak gol. Peluang kombinasi mereka awalnya tercipta saat De Bruyne memberikan umpan terobosan pada Haaland menit ke-27.
Namun, tendangan kaki kiri top skorer liga inggris dan UCL ini masih bisa ditepis Onana dan langsung dihalau Acerbi.
Dua menit berselang De Bruyne melepaskan tendangan mendatar dari luar kotak penalti yang masih mampu ditangkap Onana.
Pada menit ke-36 petaka menimpa City, De Bruyne terpaksa ditarik keluar akibat cedera dan digantikan Phil Foden.
Ia tampak sedih dan kesal karena kembali gagal menyelesaikan permainan sama seperti saat final UCL 2 tahun lalu melawan Chelsea.
Haaland sendiri yang bermain penuh tak mampu berbuat banyak. Para bek Nerrazzuri melakukan high press ketat saat Haaland menggiring bola. Bomber sekelas Haaland akhirnya mati kutu.
Babak pertama menjadi milik City, sesekali Inter melakukan counter attack melalui Lautaro Martinez dan Marcelo Brozovic namun masih nihil.
Edin Dzeko yang turun di babak pertama pun minim mendapatkan pasokan bola. Hakan Calhanoglu dan Nicolo Barella seakan hilang ditelan Bernardo Silva dan Ilkay Gundogan.
Pasca turun minum City tak mengendurkan serangan. Peluang demi peluang tercipta hingga Rodri memecah kebuntuan pada menit 68.
Menerima umpan mendatar Bernardo Silva dari sisi kiri pertahanan Inter, Rodri dengan tenang menceploskan bola plesing tanpa mampu diantisipasi Onana. Skor berubah untuk keunggulan City 1-0.
Kebobolan membuat Inter tampil semakin garang, kemelut di depan gawang Ederson membuat pemain City kelabakan.
Sundulan Dimarco pada menit ke-71 membentur mistar dan sundulan bola liar malah mengenai Lukaku.
Pemain timnas Belgia ini jelas menjadi korban bullying nomor wahid netizen sebab pada final Liga Eropa melawan Sevilla 2 musim lalu juga melakukan gol bunuh diri.
Akhirnya Inter versi Antonio Conte batal jadi jawara Liga Europa. Entah kenapa kesialan selalu menaungi Lukaku di setiap laga final kompetisi Eropa.
Bukannya ia memenangkan Inter, malah menjadi pemain belakang City ke-12 di lapangan. Lakaka oh Lakaka.
Secara keseluruhan Inter bermain sangat baik bahkan mampu mengungguli City dari segi statistik.
Bola.net melansir walaupun City menguasai permainan dengan ball possession 55 persen, Inter unggul total shot 7 berbanding 14 dan shot on target 4 banding 6.
Inter ampuh melakukan 8 umpan kunci berbanding 6 untuk City. Dalam aspek duel udara dan tekel Inter mampu memenangkan 18 duel dan melakukan 17 sapuan.
Bahkan hingga detik-detik terakhir Inter berhasil mengurung pertahanan City. Upaya Lukaku, Lautaro hingga Gosens menjelang akhir pertandingan tetap tak membuahkan hasil.
Inter bermain lebih ofensif di paruh kedua, tapi sayang Dewi Fortuna belum menghampiri. Sepak bola ternyata bukan hanya butuh faktor teknis, faktor non teknis seperti luck juga menjadi pembeda.
City bukan hanya sukses meraih trofi perdana, rekor-rekor apik lainnya juga banyak tercipta.
1. Pep Guardiola menjadi pelatih keenam yang berhasil memenangkan UCL dengan dua klub yang berbeda yaitu Barcelona pada musim 2008-2009 dan City 2022-2023.
2. City menjadi tim Inggris kedua yang mampu meraih treble setelah saudara kandung mereka Manchester United pada musim 1998-1999.
3. Erling Haaland menyamai rekor Cristiano Ronaldo sebagai juara Eropa berstatus pencetak gol terbanyak di Liga Inggris dan UCL pada musim 2007-2008.
4. Julian Alvarez menjadi the only one player yang mampu menjadi juara Piala Dunia dan treble winner pada tahun yang sama (walaupun beliau tidak bermain).
Selamat untuk Manchester City yang resmi berlabel sebagai raja baru ‘Benua Biru’. Tsunami trofi ternyata milik Manchester Biru, bukan yang merah. (*/)