Music

BAND KOTA PAHLAWAN THE CAROLINE’S MENUJU ‘BARAT’

The Caroline's nyaris bubar. Band bergenre twee pop asal Surabaya ini baru saja menjalani tur ke “Barat”. Simak wawancaranya di sini.

title

FROYONION.COM - Amfiteater di Kampus B Universitas Airlangga, Surabaya malam itu (25/3) cukup cerah. Tak tampak awan lalu lalang di langit. Tak ada angin bertiup, suasana cukup gerah. Kesempatan tak datang dua kali. Penulis dapat bertemu dengan dua personel The Caroline’s. 

Band indie-pop asal Kota Pahlawan. The Caroline's beranggotakan Indra (gitar), Reka (vokal), Nemos (gitar), Gala (drum), dan Baiq (bass).

Tujuan utama dibentuknya The Caroline’s bukan murni untuk bermusik. Saat ditanya, Indra dan Reka menjawab serempak, “The Caroline’s itu band buat modus!” Modus seperti apa? Cukup yang tahu-tahu saja.

Karena tujuan awalnya memang bukan nge-band. Indra berupaya sekeras mungkin agar semua personelnya tidak lepas. Rilisan pertama mereka dikebut pengerjaannya. Latihan hanya digelar dua kali saja, diikuti dengan take sound.

Saat rekaman untuk pertama kali, The Caroline’s belum punya drummer. Reka menyebut populasi drumer yang mengulik pop terbilang minim di Surabaya sehingga untuk mengatasi masalah itu, drummer Melabuh Kelabu ditarik untuk membantu mengisi kekosongan drummer.

Indra dan Reka mengakui kondisi serba terbatas saat membentuk bandnya. Indra meracik musik, sedangkan Reka merangkai lirik. Basisnya baru saja belajar bermain bass saat bergabung dengan band dan bahkan posisi drummer kosong. Saat rekaman pun tempo yang dimainkan kurang sesuai. Mereka mengerjakan lagu tersebut tanpa ekspektasi yang muluk-muluk.

Bukan saja bantuan dari Melabuh Kelabu. Mereka juga dibantu Thomas Glaop untuk outputnya. Termasuk rekaman, mixing, dan mastering pun di sana. Lagu yang digarap kebut-kebutan itu dirilis dengan tajuk I Adore U, Regardless. Setahun setelahnya, mereka menggarap album pendek.

Album pendeknya, On My Way to You mengisahkan perjalanan akhir. You, menceritakan segala hal yang bertengger di dalam kepala. Ketika itu Reka suka mendengarkan lagu Skramz. Meski juga  tengah mendengarkan lagu pop. Ada nuansa kelabu dalam You. Baginya sosok you dalam keadaan ditinggal mati. Ditinggalkan seseorang yang dikasihi.

Lagu Que Sera Sera diakui Reka sebagai lagu klise. Hal yang disampaikan, setidaknya, mirip dengan lagu-lagu pop kebanyakan. Reka kemudian bercerita tentang lagu lainnya.

Reka sendiri menyinggung genre band yang tidak diarahkan ke twee pop. Itu terjadi begitu saja. Transisi terjadi ketika ia bosan dengan lagu-lagu Scram. Hal itu yang membuatnya beralih ke pop. Reka yang ditugasi menulis lirik tentu punya andil besar menentukan genre.

Band yang memang awalnya tidak diniatkan untuk bermusik serius sempat diterpa masalah klasik: pembubaran. Bukan pembubaran oleh ormas, tapi karena kerenggangan di antara mereka.

Ada hal yang membuat mereka tak jadi pisah jalan. Salah satunya adalah merilis EP teranyar dan tur mereka ke “Barat”. Mencari kitab suci macam Sun Go Kong? Jelas tidak.

The Caroline’s di Bulan Maret dan April tengah dihantam kesibukan. Ada proyek baru yang dikerjakan. Album baru dan tur musik mereka!

Split album yang dikerjakan The Caroline’s bersama The Jansen dan Loon membawa warna baru. Nantinya split album akan dirilis 21 April, sebelum tur. Membawa tajuk Flowery Melancholia. Turnya sendiri akan digelar sekitar seminggu setelah rilis.

Indra sendiri punya permintaan khusus untuk rilisan teranyar mereka. Ia ingin lirik yang dibikin Reka punya kesan menyenangkan. Reka pun merancang agar Flowery Melancholia sebagai antitesis dari EP sebelumnya. Sudut pandang baru dihadirkan dengan lebih fresh. Secara kebetulan Reka sendiri sedang mengalami kebahagiaan. Apa itu? Sekali lagi, yang tahu-tahu aja.

Reka sedikit bercerita tentang itu. Ia sendiri sama sekali tak pernah terpikir untuk menulis lagu cinta dengan nuansa cerita. Cinta dapat memunculkan visual yang indah-indah, bagus-bagus. “So, cinta buta is real,” sambung Reka sedikit serius. Meski sedikit diragukannya, bahkan tak diyakini.

Visual yang digambarkan seperti melihat orang dari kacamata seorang skizo. Bisa melihat bunga anggrek tetiba tumbuh dibalik punggung seseorang. Fantasi maksimal dan sangat-sangat hiperbola. Hal tersebut menunjukkan romansa bisa setidaknya masuk akal itu, bisa segila itu. Padahal dalam kenyataannya, cinta tak selalu menyenangkan. Ada hal-hal sedih dan pilu dalam cinta. Cinta tak bisa mengesampingkan hal-hal buruk.. Namun tetap saja, cinta selalu digambarkan dengan sesuatu yang ceria.

Ada cerita di balik berlanjutnya band ‘modus’ ini. The Jansen memaksa mereka untuk tetap manggung, bahkan merilis lagu dan tur. Ada ancaman dari band asal Bogor ke band asal Surabaya tersebut. Wih serem juga. The Jansen tak mau manggung di Surabaya, bila The Caroline’s tak mau bermain.

Mungkin saja dengan terpaksa, The Caroline’s mengiyakan ultimatum itu. Saat itu band terancam bubar. Keadaan jadi canggung karena masalah internal tersebut. Latihan untuk manggung bersama The Jansen pada Oktober tahun lalu tak terlalu bagus. Meski begitu, penampilan mereka di Vape Boss, Surabaya menjadi titik balik band tersebut. Sedikit demi sedikit berbenah agar band makin cemerlang.

Aji dari The Jansen jadi salah satu orang yang merekatkan kembali band yang OTW bubar itu. Ia juga yang mengompori Indra. Hubungan internal The Caroline’s membaik pasca manggung bersama The Jansen. Alhasil band itu tak jadi bubar. Malah membuat proyek baru, salah satunya tur.

Tur mereka bertajuk On Our Trip To The West. Akan jadi kali pertama mereka tur ke tempat yang cukup jauh. Dalam perjalanan ke ‘Barat’ itu, The Caroline’s akan singgah di 3 kota, Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Mereka manggung selama 3 hari. Jadwal sangat padat itu dilakoni The Caroline’s pada 29 April di Jakarta, 30 April di Tangerang, dan finalnya 1 Mei di Bogor.

Obrolan ngalor-ngidul penulis bersama Indra dan Reka harus terhenti menjelang tengah malam. Maklum saja besok penulis harus bantu-bantu jualan di pagi hari.

Band twee pop asal Surabaya bangkit kembali dari beragam masalah. Tur musik jadi pemicu utama kegiatan padat mereka di Bulan April. Mari kita nantikan penampilan The Caroline’s bersama The Jansen di tiga kota itu. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Muhammad Rizky Pradana

Sejarawan (muda) partikelir.