In Depth

SERBA-SERBI KONTEN PRANK DI INDONESIA, BUKANNYA MENGHIBUR MALAH MERESAHKAN

Sebuah konten harusnya dibuat dengan tujuan menghibur masyarakat sekitar. Jadi, kalau masyarakat sudah resah dengan konten prank yang lo buat, buat apa terus diproduksi dan terus ditontonin?

title

FROYONION.COM - Prank, jenis konten yang buat gua udah ga ada nilai menghibur dan cenderung meresahkan masyarakat umum. 

Prank sendiri adalah jenis hiburan praktikal yang bertujuan untuk membuat korban merasa kaget, tidak nyaman, dan keheranan. 

Awalnya, gua cukup antusias dan terhibur dengan konten-konten prank yang diproduksi oleh para prankster. Well, karena di awal kemunculannya, konten-konten prank ini buat gua ga terlalu harmfull dan dalam pembuatannya ga melibatkan masyarakat umum secara luas.

Dulu, konten-konten prank yang dibuat oleh para prankster bener-bener dilakukan layaknya komedi tongkrongan. Si korban dari konten prank pun sebenarnya adalah sosok yang dikenal oleh si prankster. Jadi ya ibaratnya cuma sekadar, bercandaan temen tongkrongan. 

Tapi lambat laun, penerapan konten prank ini udah melebihi batas dan cenderung merugikan masyarakat umum. 

Mulai dari jenis prank yang harmfull dan minim empati, korban yang berasal dari masyarakat yang gatau apa-apa, sampai ke permasalahan hukum. 

Sebenarnya, gua pribadi pun bukan tipe audiens yang menuntut suatu konten harus bersifat positif dan edukatif. Karena, buat gua bukan kewajiban seorang konten kreator untuk mengedukasi audiensnya. 

BACA JUGA: ETIKA YANG HARUS LO TAHU DALAM MEMBUAT VIDEO PRANK

Tapi, ketika lo membuat konten, setidaknya lo harus punya pemikiran rasional dan logis. Dan buat gua, para kreator konten prank kayanya udah melupakan hal tersebut. 

Ada beberapa hal yang buat gua bisa berargumen kenapa akhirnya konten prank di era sekarang cenderung meresahkan masyarakat dibandingkan menghibur masyarakat. 

Mulai dari format prank, reaksi korban, sampai hubungannya dengan hukum yang membuat gua merasa bahwa konten prank sudah ditahap meresahkan masyarakat Indonesia. 

FORMAT PRANK YANG MERUGIKAN MASYARAKAT SEKITAR

Nyatanya, dibandingkan menghibur, konten prank cenderung merugikan masyarakat sekitar. Mengutip dari jurnal berjudul “Konten Prank Sebagai Krisis Moral Remaja di Era Milenial Dalam Pandangan Psikologi Hukum dan Hukum Islam. “ Karya Fuadi Isnawan. Maraknya fenomena prank yang terjadi nyatanya berkaitan dengan perilaku antisosial. 

Perilaku antisosial ini dapat dimaknai sebagai perilaku masyarakat yang tidak memikirkan tindakannya secara rasional dan logis, sehingga mereka tidak memedulikan dampak negatif yang akan terjadi terjadi terhadap masyarakat sekitar. 

Sebagai pengingat, mungkin lo ingat dengan kasus prank yang dilakukan oleh Baim Wong bersama istrinya. Dimana dalam prank tersebut, istri dari Baim Wong datang ke kantor polisi untuk  melaporkan dan menggugat cerai  Baim Wong karena kasus KDRT. 

Dari prank super konyol dan nir empati tersebut membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Baim Wong dan istrinya adalah bentuk dari perilaku antisosial. 

Di mana saat itu, kasus KDRT pun sedang hangat-hangatnya terjadi. Baik Baim Wong dan istrinya ga sadar, apa dampak dari prank yang mereka buat. Padahal, isu KDRT adalah isu nyata yang terjadi di Indonesia dan ga layak untuk dijadikan konten hiburan. 

BACA JUGA: LESTI KEJORA DIANGGAP NGE-PRANK KARENA RUJUK? INI SIKLUS KDRT YANG LO WAJIB TAU!

Mereka ga sadar akan dampak yang terjadi apabila konten prank tersebut terus dilestarikan. Bisa-bisa, para korban KDRT yang sesungguhnya cuma dianggap bercandaan oleh masyarakat sekitar. 

Selain konten prank Baim Wong, masih banyak sebenarnya konten-konten prank yang ngerugiin masyarakat sekitar. 

Mulai dari kasus Ferdinan Paleka yang memberikan sembako berisikan sampah kepada para waria. Atau dulu, Hasanjr11 yang membuat konten public bomb prank. Dimana dia seolah-seolah menjadi teroris yang membawa bom dan menaruh bomnya di wilayah lingkungan masyarakat. 

Dari ketiga contoh prank tersebut ada satu kesamaan, yaitu tidak adanya kesadaran akan dampak yang bisa mereka ciptakan. 

Mulai dari Baim Wong yang ga sadar prank KDRT bisa membuat korban KDRT merasa tidak dianggap sebagai permasalahan nyata, prank dari Ferdinan Paleka yang merendahkan komunitas waria dan dampaknya terhadap image waria di masyarakat umum, dan juga Hasanjr11 yang ga sadar, bahwa konten prank yang dibuat bisa membuat pengalaman traumatis bagi para korbannya. 

Jadi, sangat fair rasanya kalau gua menganggap kalau nyatanya konten prank cenderung merugikan dan meresahkan masyarakat sekitar dibandingkan menghibur masyarakat sekitar. 

REAKSI KORBAN TIDAK DIANGGAP PENTING

Salah satu daya jual dari konten prank adalah reaksi dari korbannya. Dan disinilah yang buat gua pribadi membuat konten prank menjadi konten yang problematik.

Karena gini, sebagai subjek, para prankster ini seringkali memanfaatkan para korbannya hanya sebagai objek hiburan bagi dirinya sendiri.

Yes, dirinya sendiri. Bukan audiens, melainkan dirinya sendiri.

Karena gini, ketika akhirnya para prankster ini sukses mendapatkan reaksi para korban sesuai yang mereka inginkan. Bagi mereka hal tersebut adalah pencapaian, kebanggaan, dan hal-hal egois lainnya. 

Mereka yang jadi korban, hanya mendapatkan ucapan,

Sorry bro, cuma prank kok.”

Brengsek? Tentu. Lo bisa bayangin, ketika emosi lo, reaksi lo, dan perasaan lo diperas dan dipermainkan hanya karena untuk “kebutuhan” hiburan semata. Jelas hal tersebut adalah hal paling konyol dan minim empati. 

Lo sebagai korban ga mendapat keuntungan apapun selain rasa malu, trauma, dan marah. Semua keuntungan mulai dari, uang, followers, dan lain sebagainya ya cuma buat si pranksternya aja. 

Orang-orang yang menjadi korban prank ga lebih dari objek hiburan yang hadir cuma untuk dimanfaatkan guna keperluan si prankster aja. Emosi lo dan perasaan lo, mereka jadikan bahan untuk nyari keuntungan. Dan di sinilah buat gua, para prankster ini ya emang pure orang brengsek aja. 

LEBIH BANYAK KONTROVERSI 

Sebagai penutup, well dari apa yang udah gua jelasin tadi, lo pastinya sepakat bahwa konten prank ini lebih banyak menimbulkan kontroversi dibanding prestasi.

Dan ketika ngomongin kontroversi, di sini kontroversinya ga cuma dalam bentuk perdebatan, tapi udah masuk ke ranah hukum

Contohnya ya, Ferdinan Paleka yang akhirnya harus masuk penjara karena konten pranknya. Ya emang doi ga lama di penjara, tapi ya harusnya lo sadar dan paham. Ketika akhirnya suatu jenis format konten bisa bikin lo masuk penjara, buat apa diproduksi terus? 

Sebagai audiens dan pengguna media sosial, udah waktunya kita memilah mana konten yang bisa dinikmati dan mana yang sebaiknya ditinggal dan dilupakan.

Dan konten prank buat gua adalah jenis konten yang sebaiknya dibuang jauh dari Indonesia. Ya karena banyaknya kontroversi yang terjadi pasca naiknya konten tersebut, jadi buat apa dipertahanin? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Radhytia Rizal Yusuf

Mahasiswa semester akhir yang hobi menonton anime dan memiliki ketertarikan dalam berbagai budaya populer seperti, anime, J-pop, K-Pop