In Depth

6 ALASAN MENGAPA ADA YANG TIDAK BISA BEREMPATI TERHADAP KEJADIAN DI PALESTINA

Mulai dari yang katanya aktivis, influencer, sampai peserta Clash of Champions, ternyata banyak orang masih belum bisa berempati pada genosida yang terjadi di Palestina. Pertanyaannya: kenapa?

title

FROYONION.COM – Belakangan, nama salah seorang peserta game show Clash of Champions tengah jadi perbincangan hangat di media sosial. Pasalnya, story akun Instagram pribadinya tersebar dan konten di dalamnya cukup mencengangkan. 

Beberapa kali ia mengunggah gambar yang dinilai meledek korban genosida Palestina. Mulai dari tagar #ceasefirenow di depan produk makanan cepat saji yang berafiliasi dengan Israel hingga penggunaan kata perang yang merujuk keadaan di jalur Gaza. 

BACA JUGA: VIRAL POSTER ‘ALL EYES ON RAFAH’ DI STORY INSTAGRAM, BENERAN ADA MANFAATNYA? 

Peserta Clash of Champions ini tentu bukan satu-satunya orang yang pernah menunjukkan rasa nirempati pada genosida Palestina. 

Masih jelas di ingatan kita bagaimana sekelompok remaja SMP mengolok-olok pembantaian di Palestina sembari merekamnya dan mengunggahnya ke media sosial. 

BACA JUGA: APAKAH BRAND INDONESIA HARUS BERSIKAP TERHADAP KONFLIK ISRAEL-PALESTINA?

Ada juga aktivis, selebgram hingga influencer yang dinilai abai akan genosida Palestina, mereduksinya sebagai konflik kemanusiaan biasa dan cenderung bersikap netral bahkan membela pihak yang bersalah. 

Padahal, genosida Palestina telah terjadi selama berbulan-bulan dan eksposur beritanya sangat besar di media. Negara kita juga termasuk yang pro dan mendukung kemerdekaan Palestina. Kenapa masih ada saja yang nirempati, ya?  

1. KURANGNYA INFORMASI YANG AKURAT

Banyak orang yang kemungkinan tidak memiliki akses atau justru terpapar informasi yang tidak akurat akan apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. 

Media yang bias dan tidak memberikan gambaran lengkap terkait situasi di lapangan akan sangat mungkin membuat seseorang menjadi tidak awas akan isu sebenarnya. 

Ini terutama dapat terjadi pada anak-anak di bawah umur atau mereka yang tinggal di negara pro Israel sehingga pemberitaan medianya juga cenderung memihak. 

2. OVERLOAD INFORMASI

Selain kekurangan informasi yang akurat, kebanjiran informasi juga mungkin membuat seseorang menjadi tidak terlalu peduli akan masalah tertentu secara spesifik, termasuk situasi pelik Palestina. 

Apalagi di era digital ini, sangat banyak berita dan informasi dari seluruh belahan dunia yang masuk tiap hari. Seseorang mungkin akan merasa kewalahan dan lebih memprioritaskan berita-berita menyangkut konflik di negaranya sendiri. 

Di Indonesia saja,  misalnya, belakangan ini ramai isu Tapera, RUU Penyiaran, korupsi Menteri Pertanian, dan lain-lain. 

Orang-orang akhirnya lebih fokus pada isu-isu tersebut karena menyangkut hajat dirinya sendiri dan kurang mempedulikan berita yang berasal dari negara lain. 

3. KETIDAKPEDULIAN SOSIAL

Masih terkait dengan overload informasi di atas, beberapa orang mungkin akan memiliki sikap apatis serta tidak peduli akan suatu masalah yang tidak secara langsung mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. 

Mereka cenderung akan lebih fokus pada isu-isu yang lebih dekat dengan keseharian, misalnya isu kebijakan pemerintah atau hal-hal lain yang terjadi dalam negeri. Sementara apa yang terjadi di luar negeri akan dianggap angin lalu karena tidak dirasakan langsung dampaknya. 

Apalagi jika mengingat jarak Palestina-Indonesia yang jauh dan bukan negara tetangga, banyak orang akan menilai bahwa genosida Palestina tidak akan merembet sampai di Indonesia. 

Alias posisinya aman-aman saja sehingga tidak dirasa perlu untuk terlalu peduli akan apa yang terjadi di sana. 

4. KELELAHAN EMPATI

Hingga kini, genosida Palestina telah terjadi selama 9 bulan. Selama rentang waktu itu pasti kita telah menyaksikan begitu banyak berita, gambar hingga video berisi kekerasan dan penderitaan para korban. 

Terus menerus terpapar pada konten-konten semacam ini akan membuat beberapa orang mengalami kelelahan empati. Pada akhirnya, seseorang menjadi kebal dan tidak lagi tergerak melihat penderitaan orang lain. 

Perlahan, footage yang beredar di media sosial dianggap biasa dan wajar karena berasal dari lokasi terjadinya genosida. Orang-orang yang tadinya peduli pun tidak lagi sevokal dulu dalam menyuarakan kebebasan Palestina atau justru berakhir menjadi nirempati.

5. PANDANGAN POLITIK DAN IDEOLOGI

Sikap, pandangan politik atau ideologi seseorang akan sangat mungkin mempengaruhi bagaimana ia memandang sebuah tragedi. Begitu pula dengan perspektif sejarah. 

Orang-orang yang berasal dari latar belakang sejarah berbeda akan mungkin memiliki perspektif berbeda akan penjajahan yang terjadi di Palestina. Hal ini akan turut berdampak pada pandangan serta empati mereka. 

6. PENGARUH MEDIA SOSIAL

Algoritma media sosial akan hanya menunjukkan konten sesuai minat serta pandangan pengguna. 

Ini artinya, apabila dari awal seseorang memiliki pandangan politik, ideologi serta latar belakang sejarah yang membuatnya nirempati pada genosida Palestina, konten media sosial yang diterimanya juga tidak akan jauh berbeda. 

Hal ini akan dapat menciptakan echo chamber, suatu keadaan yang membuat seseorang hanya akan terpapar pada pandangan yang mereka setujui. Sudut pandang lain yang kurang disetujui akan lebih sedikit muncul dalam algoritma media sosialnya dan memperkuat bias. 

Itulah beberapa alasan yang membuat masih ada saja orang-orang merasa nirempati pada genosida Palestina. Penting bagi kita untuk hanya mencari informasi di sumber yang akurat dan terpercaya untuk mengurangi bias. 

Teruslah bersuara untuk kemerdekaan Palestina. Namun, tidak ada salahnya untuk sesekali mengambil waktu rehat dari media sosial untuk mengurangi paparan berita yang bisa memberi dampak negatif. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Wahyu Tri Utami

Sometimes I write, most of the time I read