
Eka Kurniawan baru-baru ini menerbitkan buku barunya berjudul "Tragedimu Komediku" yang berisi kumpulan esai. Seperti apa isinya?
FROYONION.COM - Tragedi selalu menjadi sajian utama dalam karya-karya Eka Kurniawan. Namun dengan satu atau lain hal, Eka selalu menemukan cara untuk mengubah tragedi tersebut menjadi komedi yang dengan mudah bisa kita tertawakan.
Sebagai misal, dalam novelnya berjudul "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" kita dapat melihatnya pada sosok Ajo Kawir dengan 'burungnya' yang tak bisa ngaceng. Di sana dengan cerdiknya, Eka mengubah tragedi pada Ajo Kawir menjadi komedi dengan mengibaratkan 'burung' yang tidak bisa ngaceng sebagai seorang pertapa yang tengah bermeditasi.
Gaya penulisan Eka semacam ini juga terlihat pada esai-esainya yang terkumpul dalam buku kumpulan esai terbarunya berjudul Tragedimu Komediku. Dalam buku itu ada sekitar 70-an esai karya Eka yang pernah dimuat di Jawa Pos pada rentang tahun 2018 hingga 2022.
Ada banyak satir-satir di dalamnya yang bakal menggelitik gagasan di kepala pembaca dan menggiring mereka pada perenungan-perenungan. Pada sebagian esai, satir-satir itu digunakan Eka untuk menertawakan tragedi yang muncul di sekitar kita.
Misalnya, pembaca dapat menemukannya pada esai berjudul, "Menyapu Sampah ke Bawah Permadani". Di sini Eka mengkritisi bagaimana penyelesaian kasus kekerasan seksual oleh petinggi kampus yang terkesan ditutup-tutupi.
Seolah tengah meledek fenomena itu, Eka mengibaratkan pihak kampus seperti sedang menyapu sampah ke bawah permadani. Pengandaian semacam ini rasanya akan mudah sekali membuat pembaca nyengir miris.
BACA JUGA: OPSI TERBAIK, BELI BUKU BAJAKAN BARU, ATAU YANG BEKAS AJA?
Selain mengkritisi dengan satir semacam itu, pada esai-esai lainnya, Eka menghubungkan isu-isu viral yang pernah panas di media sosial, dengan kisah-kisah pada novel yang pernah dibacanya.
Eka menulis bagaimana fenomena tersebut mengingatkannya pada kisah seorang tokoh di sebuah novel. Dan mesti diakui, dengan kayanya ragam bacaan Eka, perspektif yang disodorkannya pada pembaca terasa segar.
Sebagai misal, pembaca dapat menemukannya pada esainya berjudul, Ada Rumput Tetangga yang Lebih Meranggas. Di sana Eka mengkritisi bagaimana naluri manusia untuk selalu bersaing menjadi yang paling unggul tak selalu baik.
Eka kemudian juga menyodorkan semacam perspektif yang menarik dengan mengaitkan isu tersebut dengan novel Yoko Tawada berjudul The Last Children of Tokyo.
Lewat novel tersebut, Eka memperoleh semacam pencerahan soal banding-membandingkan juga soal berkompetisi. Bahwa tidak selalu kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, melainkan juga dengan diri kita pada waktu yang berbeda.
Bahkan Eka lalu membagikan pemahamannya pada pembaca, bahwa tidak selamanya membandingkan-bandingkan tujuannya untuk berkompetisi menjadi paling unggul. Bahwa membanding-bandingkan juga sebagai media untuk mencari hal-hal yang bisa disyukuri dan bahan evaluasi diri.
Sebagaimana yang diungkapkan Eka dalam esai tersebut:
Tak selamanya kita membandingkan satu hal dengan hal lain untuk berkompetisi. Tak selamanya melihat mereka-mereka yang menjadi juara untuk mematok standar baru tentang apa yang berhasil. Sesekali kita perlu benar menoleh ke sisi lain, ke mereka yang tertatih-tatih, yang terjatuh, bahkan yang tak bisa berlari. Dunia semestinya tak melulu soal menjadi lebih baik setiap hari, tapi juga memastikan tak ada yang ditinggalkan.
Tak hanya membahas soal politik dan isu-isu kekinian, sebagai penulis yang pernah masuk nominasi Man Booker Prize, Eka juga berbagi amatannya soal sastra. Salah satu esainya yang berisi amatan soal dunia sastra, misalnya bisa pembaca temui pada esai berjudul: Bukan Sinema, Bukan Sastra, Bukan Kopi.
Esai itu dimulai dengan isu yang lahir dari keluhan seorang Martin Scorsese terhadap film-film superhero Marvel. Sutradara papan atas Hollywood yang akrab dengan genre fiksi kriminalnya itu, berpendapat bahwa film superhero Marvel itu bukanlah sinema melainkan sebuah taman hiburan. Komentar ini pernah menjadi trending di beberapa media sosial, mengingat di tahun yang sama Endgame dirilis.
Di luar keributan atas komentar Scorsese, Eka memberikan pandangannya soal apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Scorsese. Menurut pemahamannya, film-film formulaik dari Marvel bisa mengancam keanekaragaman perfilman. Hal ini menjadi masuk akal, karena film alternatif lainnya bisa jadi tidak mendapatkan tempat.
Eka melihat secara tak langsung, hal ini membuat film-film yang tersedia menjadi kurang variatif, apalagi jika selera penonton akhirnya terbentuk pada formula tertentu. Ia juga menyebut, hal yang sama juga tengah terjadi pada sastra dan kopi. Seperti dalam kalimat ini:
Kita sering lupa, selera juga dibentuk. Industri besar dengan kapital dan distribusi luas memiliki kekuatan yang besar untuk menciptakan selera, menyeragamkan konsumsi. Di film, di sastra, di sajian kopi.
Membaca esai-esai Eka pada buku ini akan memperkaya insight pembaca dalam menilai berbagai hal. Ada banyak perspektif yang jarang sekali disentuh oleh kebanyakan orang namun disajikan oleh Eka dalam esai-esainya.
Hal ini menjadi penting bagi penulis yang sangat membutuhkan kreativitas. Karena untuk meningkatkan kreativitas bisa dimulai dengan memperkaya wawasan agar dapat melihat setiap isu dari beragam perspektif. Dan saya kira, buku Tragedimu Komediku ini akan sangat membantu. (*/)